berlindung di petakan kardus
memungut sisa untuk kehidupan
tubuh kering kurus kerontang
tak berdaging hanya bertulang
berteman kecrek di pinggiran jalan
menadahkan kaleng rombengan
meminta belas kasihan
tapi...
mereka acuh tiada peduli
dioputuskannya puasa tuk hari ini
diesok yang cerah, seakan mendung setia mengurungnya
kawan berseragam lalu lalang di mukanya
ia hanya duduk memandang langit
mencari jawaban atas harapnya
pada siapa ia akan berharap?
pada ayah yang telah rentakah?
yang tinggal menunggu izrail menjemput?
tergolek lemah di atas tikar rongsokan
lamunnya terbiaskan suara rintihan
bibir ayahnya tak lagi bergerakl
kejang sesaat dan kaku
tangis pun meledak bersemayam dalam benak
harapnya tinggal angan
sandarannya tak lagi bertahan
kini ia perjuangkan sendiri hidup di tengah kepedihan
sungguh tiada pernah berpihak padanya
sebuah keberuntungan
buta dunia ilmu tak terjamah uluran derma
hanya satu mimpi yang ia punya
merajut sendiri benang asa
menjadi mimpi untuk selamanya
Senin, 23 Maret 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar